JAKARTA, 14 Juli 2026 – Harga minyak dunia kembali melonjak setelah eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global. Harga minyak mentah Brent naik hingga 84,91 dolar AS per barel, tertinggi dalam satu bulan terakhir, seiring meningkatnya ketegangan militer dan terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.
REKOMENDASI ARTIKEL : Harga BBM Pertamina Turun per 1 Juli, Cek Daftarnya
Harga Minyak Brent Sentuh Level Tertinggi Sebulan
Harga minyak mentah Brent tercatat naik sekitar dua persen pada perdagangan Selasa (14/7/2026), mencapai 84,91 dolar AS per barel. Level tersebut menjadi yang tertinggi sejak pertengahan Juni 2026.
Kenaikan ini menandai berakhirnya tren penurunan harga yang sempat terjadi setelah Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada pertengahan Juni lalu. Optimisme pasar kala itu mulai memudar setelah kedua negara kembali terlibat dalam aksi militer.
Sejak konflik kembali memanas, pelaku pasar memperkirakan risiko terhadap pasokan minyak global meningkat, terutama karena kawasan Teluk menjadi jalur utama distribusi energi dunia.
Retorika Perang Dorong Volatilitas Pasar Energi
Analis pasar minyak dari Sparta Commodities Singapura, June Goh, menilai lonjakan harga tidak hanya dipicu oleh serangan militer, tetapi juga meningkatnya retorika perang dari kedua negara.
Menurutnya, cadangan minyak strategis yang selama ini menjadi penyangga pasar semakin berkurang sehingga harga minyak lebih sensitif terhadap perkembangan geopolitik.
“Minyak mentah cepat kehilangan penyangga cadangan minyak strategis yang dimilikinya, dan penyesuaian harga tidak bisa dikurangi hingga pasar melihat retorika yang lebih tenang dari kedua pihak,” ujar June Goh.
REKOMENDASI ARTIKEL : Harga Emas Antam Hari Ini Turun Rp15.000, Jadi Rp2,63 Juta
Kondisi tersebut membuat investor kembali memburu aset energi sebagai langkah antisipasi terhadap potensi gangguan distribusi minyak dalam waktu yang lebih panjang.
Serangan Militer Tingkatkan Risiko Pasokan Minyak
Ketegangan kembali meningkat setelah militer Amerika Serikat melancarkan serangkaian serangan ke sejumlah target militer di Iran pada Senin (13/7) malam hingga Selasa (14/7) dini hari waktu setempat.
Komando Militer AS (CENTCOM) menyebut operasi tersebut menyasar fasilitas yang dinilai berpotensi digunakan Iran untuk menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Sebagai balasan, Iran dilaporkan menyerang sejumlah aset militer Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Selain itu, Teheran juga dilaporkan menyerang dua kapal supertanker yang dituduh melintas di Selat Hormuz tanpa izin.
Rangkaian aksi tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap kemungkinan terganggunya distribusi minyak dari kawasan Timur Tengah.
Lalu Lintas Selat Hormuz Menurun Drastis
Ketegangan yang terus meningkat turut berdampak terhadap aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Data dari platform pelacak kapal MarineTraffic menunjukkan lalu lintas kapal di kawasan tersebut turun lebih dari 50 persen dibandingkan pekan sebelumnya.
REKOMENDASI ARTIKEL : DAMKAR Garut Raih Penghargaan SPM 100 Persen Dari Gubernur Jawa Barat Pada HUT DAMKAR KE-107
Penurunan aktivitas pelayaran ini memperkuat kekhawatiran bahwa distribusi minyak mentah menuju pasar internasional dapat mengalami hambatan apabila konflik terus berlanjut.
Selat Hormuz sendiri menjadi jalur strategis bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi harga energi secara global.
Rencana Pungutan AS Tambah Ketidakpastian
Di tengah meningkatnya konflik, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pemerintahannya berencana mengambil kendali keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Trump juga mengungkapkan rencana penerapan pungutan bagi kapal-kapal yang melintasi kawasan tersebut sebagai kompensasi atas perlindungan keamanan yang diberikan Amerika Serikat.
Pernyataan tersebut menambah ketidakpastian di pasar energi global karena pelaku industri masih menunggu perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.
Pasar Menanti Meredanya Ketegangan
Pelaku pasar kini menaruh perhatian besar terhadap perkembangan diplomasi antara Amerika Serikat dan Iran. Selama eskalasi konflik masih berlangsung, harga minyak diperkirakan tetap bergerak volatil dengan kecenderungan menguat.
Selain memengaruhi harga energi, ketidakstabilan di Selat Hormuz juga berpotensi meningkatkan biaya logistik internasional serta memberikan tekanan terhadap inflasi di berbagai negara yang bergantung pada impor minyak mentah.
Penulis : Amanda
Artikel ini terkait dengan konten :
- Harga Minyak Dunia Naik, Perdamaian AS-Iran Terancam Gagal
- Presiden Jokowi Bagikan Bansos dan Tinjau Harga Minyak Goreng di Pasar
- Kapolri Tinjau Pabrik Minyak Goreng Pastikan Ketersediaan Barang & Harga Sesuai HET
- Selat Hormuz Memanas, Iran Ancam Tak Ada Negara Bisa Jual Minyak
- Harga BBM Pertamina Turun per 1 Juli, Cek Daftarnya
EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
Ikuti rangkuman peristiwa harian dan pembaruan kebijakan publik secara real-time melalui kanal pilar kami:
- Berita Utama Terkini Daerah Nasional Internasional Rangkuman komprehensif peristiwa penting di Indonesia dan global.
- Headline News Update Berita Utama Laporan kilat berita viral dan sorotan utama redaksi hari ini.
- Update Berita Terbaru Setiap Hari Informasi berkala yang diperbarui konsisten setiap waktu untuk referensi Anda.
- Berita Hari Ini Terkini dan Terpercaya Dinamika terkini langsung dari tempat kejadian secara real-time.
Harga Minyak Dunia Naik, Konflik AS-Iran Kembali Memanas
Oleh: Fatiha Amanda | 15:56 WIB, 14 Juli 2026
Seluruh konten di portal EX-POSE.NET telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan standar jurnalisme profesional yang akurat dan berimbang.
Karya jurnalistik ini tunduk pada UU Pers No. 40/1999 & Pedoman Media Siber. Hak cipta dilindungi.




