Lembaga PendidikanPendidikan

Yudha Puja Turnawan Dorong Penanganan Warga Garut yang Masih Buta Aksara, PKBM Diminta Aktif Menjangkau Warga

Avatar photo
×

Yudha Puja Turnawan Dorong Penanganan Warga Garut yang Masih Buta Aksara, PKBM Diminta Aktif Menjangkau Warga

Sebarkan artikel ini

GARUT, 30 September 2026 – Anggota DPRD Kabupaten Garut dari Komisi 4, Yudha Puja Turnawan, menyoroti masih adanya warga Kabupaten Garut yang belum mampu membaca dan menulis atau mengalami buta aksara.

Hal tersebut disampaikan Yudha saat diwawancarai awak media di sekitar lingkungan Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Garut, Jalan Pembangunan, Kelurahan Sukagalih, Kecamatan Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, Rabu (30/9/2026).

Yudha mengatakan, dirinya menerima informasi mengenai adanya warga yang masih mengalami buta aksara. Salah satunya warga Kampung Nyalindung RT 04/RW 11, Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, yang disebut masih berusia sekitar 15 tahun dan belum mampu membaca maupun menulis.

Selain itu, terdapat pula warga Kampung Cipadali, RW 09, Desa Sukakarya, Kecamatan Samarang, berusia sekitar 38 tahun yang juga mengalami kondisi serupa.

“Silakan komunikasikan dengan PKBM terdekat, yaitu Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. Ini menjadi salah satu solusi bagi warga yang belum bisa membaca dan menulis,” ujar Yudha.

Menurutnya, masyarakat yang berusia 10 tahun ke atas dan masih mengalami buta aksara perlu mendapatkan perhatian bersama. Khusus bagi warga usia sekolah, orang tua diharapkan segera mendaftarkan anaknya melalui PKBM yang ada di wilayah Kabupaten Garut.

Yudha menjelaskan, berdasarkan estimasi Badan Pusat Statistik (BPS), masih terdapat sekitar 0,98 persen warga Garut yang mengalami buta aksara, sementara tingkat melek huruf berada di kisaran 99 persen.

“Jangan sampai masih ada warga Garut yang tidak bisa membaca dan menulis. Kita harus berusaha agar ke depan bisa mencapai 100 persen masyarakat yang memiliki kemampuan membaca dan menulis,” katanya.

Ia juga menyampaikan bahwa bagi peserta didik yang memenuhi ketentuan usia, pendidikan melalui PKBM dapat memperoleh dukungan pemerintah. Selain itu, terdapat Bantuan Operasional yang diharapkan dapat membantu kegiatan pembelajaran, termasuk meringankan kebutuhan peserta didik dalam mengikuti kegiatan belajar.

Yudha meminta pemerintah desa, PKBM, keluarga, masyarakat, serta berbagai pihak lainnya untuk bersama-sama melakukan pendataan terhadap warga yang masih mengalami buta aksara.

Menurutnya, Forum PKBM juga memiliki peran penting untuk bergerak aktif di masing-masing wilayah. Tidak hanya menunggu warga datang mendaftar, tetapi juga melakukan komunikasi dengan pemerintah desa untuk mencari dan mendata keluarga yang masih memiliki anggota keluarga yang belum bisa membaca dan menulis.

“Forum PKBM juga harus bisa bergerak dan berkomunikasi dengan pemerintah desa di wilayahnya masing-masing untuk mencari warga Garut yang masih buta aksara,” ujarnya.

Yudha menegaskan, persoalan buta aksara bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Masyarakat yang mengetahui adanya anggota keluarga, tetangga, maupun warga di lingkungannya yang masih belum bisa membaca dan menulis juga diharapkan ikut menyampaikan informasi tersebut kepada PKBM terdekat.

“Kalau ada saudara atau warga yang usianya di atas 10 tahun dan belum bisa membaca serta menulis, silakan didaftarkan ke PKBM. Jangan khawatir, karena pemerintah juga sudah menyediakan anggaran untuk penanganan warga yang masih buta aksara,” jelasnya.

Untuk warga yang sudah dewasa, termasuk mereka yang berusia di atas 23 tahun, Yudha mendorong agar penanganannya dilakukan melalui kolaborasi berbagai pihak. Menurutnya, kelompok masyarakat dewasa yang belum mampu membaca dan menulis juga harus mendapatkan kesempatan untuk belajar.

Ia menilai, keterlibatan mahasiswa dapat menjadi salah satu bentuk kolaborasi. Mahasiswa, termasuk mahasiswa dari Institut Pendidikan Indonesia (IPI), diharapkan dapat diarahkan untuk membantu kegiatan pembelajaran masyarakat, khususnya dalam kemampuan dasar membaca dan menulis.

Selain itu, Yudha juga mendorong keterlibatan dunia usaha melalui program Corporate Social Responsibility (CSR). Menurutnya, dukungan CSR dapat diarahkan untuk membantu program pendidikan masyarakat, terutama bagi warga dewasa yang masih mengalami buta aksara.

“Kita bisa menggerakkan CSR. Banyak juga warga yang usianya di atas 23 tahun yang belum betul-betul bisa membaca dan menulis. Ini harus kita tangani bersama,” katanya.

Yudha berharap seluruh unsur, mulai dari pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, pemerintah desa, PKBM, Forum PKBM, mahasiswa, dunia usaha, hingga masyarakat, dapat bersinergi dalam menangani persoalan tersebut.

Ia menilai, kemampuan membaca dan menulis merupakan bagian penting bagi masa depan masyarakat. Karena itu, upaya pemberantasan buta aksara harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

“Harapan kita semuanya bisa membaca dan menulis demi masa depan mereka dan demi kepentingan mereka. Kita ingin 100 persen masyarakat Garut bisa membaca dan menulis. Untuk itu, kita harus mau berikhtiar dan bekerja sama,” pungkas Yudha.(opx)

UPDATE: Informasi dalam artikel ini telah diverifikasi dan validasi secara berkala hingga 6 Oktober 2026.

EX-POSE.NET  : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya

🔥 Pusat Informasi & Rubrik Utama Expose.net

Ikuti rangkuman peristiwa harian dan pembaruan kebijakan publik secara real-time melalui kanal pilar kami:

Yudha Puja Turnawan Dorong Penanganan Warga Garut yang Masih Buta Aksara, PKBM Diminta Aktif Menjangkau Warga

Oleh: Taufik | 15:26 WIB, 30 September 2026

Seluruh konten di portal EX-POSE.NET telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan standar jurnalisme profesional yang akurat dan berimbang.

Karya jurnalistik ini tunduk pada UU Pers No. 40/1999 & Pedoman Media Siber. Hak cipta dilindungi.