EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
JAKARTA, 11 Maret 2026 – Pegiat media sosial Permadi Arya alias Abu Janda terlibat perdebatan panas dengan pakar hukum tata negara Feri Amsari dalam program Rakyat Bersatu di iNews, Selasa (10/3) malam. Adu argumen soal konflik Amerika Serikat–Israel–Iran hingga Palestina berujung makian dan pengusiran dari studio.
Kronologi Perdebatan di Studio iNews
Perdebatan bermula ketika Abu Janda menyinggung sentimen anti-Amerika di Indonesia. Ia menilai kebencian terhadap Amerika Serikat kerap tidak berdasar dan mengabaikan peran historis negara tersebut dalam proses kemerdekaan Indonesia.
Baca juga: Iran Serang Israel dengan 200 Rudal Balistik, Tel Aviv dan Yerusalem Digempur
Menurutnya, Amerika Serikat memberi tekanan terhadap Belanda dalam momentum pasca-Proklamasi 1945, termasuk dalam dinamika diplomasi menuju pengakuan kedaulatan Indonesia.
Baca juga: Israel Gempur Kota Natanz, Iran Teriak Deklarasi Perang
“Amerika punya peran besar sekali pada kemerdekaan kita. Orang cuma ingat 17 Agustus, tapi lupa Belanda balik dengan NICA,” ujar Abu Janda dalam forum tersebut.
Baca juga: Israel Minta Bantuan Internasional Atasi Kebakaran Hutan
Pernyataan itu kemudian ditanggapi oleh mantan Duta Besar Indonesia untuk Tunisia, Ikrar Nusa Bhakti. Ia mengutip buku Nationalism and Revolution in Indonesia karya George McTurnan Kahin yang menjelaskan intervensi Amerika dalam konflik Indonesia–Belanda tidak lepas dari kepentingan geopolitik menahan pengaruh komunisme di Asia Tenggara.
“Amerika turun tangan karena khawatir Indonesia jatuh ke tangan komunis,” kata Ikrar.
Namun, diskusi menjadi panas ketika Abu Janda memotong penjelasan Ikrar dan menilai argumen tersebut terlalu emosional. Situasi mulai tidak kondusif setelah Abu Janda melontarkan kata-kata kasar yang ditegur oleh moderator acara, Aiman Widjaksono.
Perdebatan Memanas dengan Feri Amsari
Isu Board of Peace dan Israel
Ketegangan meningkat saat Feri Amsari menyoroti keputusan Presiden Prabowo Subianto bergabung dengan Board of Peace (BOP) yang dikaitkan dengan mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Feri menilai langkah tersebut tidak etis apabila dalam struktur organisasi itu terdapat unsur yang berafiliasi dengan Israel. Ia menegaskan Indonesia memiliki sikap politik luar negeri yang konsisten mendukung Palestina.
“Kalau bicara hutang sejarah, kita punya hutang besar terhadap bangsa Palestina,” ujar Feri.
Ia merujuk pada dukungan tokoh Palestina terhadap perjuangan diplomasi Indonesia, termasuk kontribusi Muhammad Ali Taher melalui jalur diplomatik kepada Agus Salim.
Perdebatan soal Sejarah Palestina
Abu Janda langsung membantah narasi tersebut. Ia menyebut klaim bahwa Palestina menjadi pihak pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia sebagai hoaks.
“Tidak ada hutang sama Palestina. Tahun 1945 belum ada negara Palestina,” tegasnya dengan nada tinggi.
Feri membalas bahwa dukungan Palestina terhadap Indonesia tercatat secara historis dalam bentuk pengakuan de facto oleh tokoh-tokoh Palestina terhadap kemerdekaan Indonesia.
Ketegangan memuncak ketika keduanya saling melontarkan sindiran. Feri menyebut pernyataan Abu Janda keliru secara historis. Sebaliknya, Abu Janda menyebut argumen Feri sebagai bentuk manipulasi fakta.
Moderator Ambil Tindakan, Abu Janda Diusir
Melihat situasi semakin tidak terkendali, Aiman Widjaksono sebagai moderator beberapa kali mengingatkan agar diskusi tetap tertib. Namun, Abu Janda kembali menggunakan kata-kata kasar di ruang publik.
Feri kemudian meminta moderator mengambil tindakan tegas. “Ini ruang publik, kalau tidak bisa tertib sebaiknya dikeluarkan,” ujarnya.
Aiman akhirnya memutuskan menghentikan partisipasi Abu Janda dalam dialog tersebut. “Kalau Anda tidak bisa tertib, keluar,” kata Aiman dengan tegas.
Abu Janda kemudian meninggalkan studio. Potongan video peristiwa itu viral di berbagai platform media sosial dan memicu perdebatan lanjutan di ruang digital.
Respons Publik dan Sindiran Felix Siauw
Penceramah Felix Siauw turut menanggapi insiden tersebut melalui media sosial. Ia menyindir sikap Abu Janda dan menyebutnya sebagai bentuk “gaslighting”.
Secara psikologis, gaslighting merujuk pada tindakan manipulatif yang membuat orang lain meragukan fakta atau penilaiannya sendiri.
Unggahan tersebut semakin memperluas diskursus publik tentang etika debat di ruang publik serta konsistensi sikap politik luar negeri Indonesia terhadap konflik Palestina–Israel.
Konteks Historis Hubungan Indonesia–Palestina
Secara historis, Indonesia konsisten mendukung kemerdekaan Palestina. Dukungan itu tercermin dalam berbagai forum internasional, termasuk sikap diplomasi Indonesia di PBB.
Beberapa catatan sejarah menyebut adanya dukungan tokoh Palestina terhadap perjuangan diplomasi Indonesia pasca-Proklamasi 1945. Di sisi lain, sejumlah sejarawan juga menekankan bahwa dinamika pengakuan internasional saat itu melibatkan berbagai kepentingan global, termasuk Amerika Serikat dalam konteks Perang Dingin.
Perdebatan di iNews tersebut menunjukkan bahwa isu sejarah dan geopolitik masih menjadi perdebatan sensitif di ruang publik Indonesia.
Insiden Abu Janda ngamuk di iNews menjadi sorotan luas karena memperlihatkan polarisasi pandangan terkait konflik Palestina–Israel dan relasi Indonesia dengan Amerika Serikat. Peristiwa itu juga memunculkan kembali diskusi tentang etika berdialog di ruang publik serta pentingnya literasi sejarah dalam menyikapi isu internasional.
Video debat tersebut hingga kini masih beredar dan menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial.













