EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
JAKARTA, 22 Februari 2026 — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami trading halt dua hari beruntun pada akhir Februari 2026 setelah pengumuman MSCI memicu tekanan pasar. Indeks terkoreksi lebih dari 8 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi ini hanya bersifat sementara, namun menegaskan perlunya pembersihan saham gorengan di bursa.
IHSG Trading Halt Usai Pengumuman MSCI
Tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan terjadi setelah rilis kebijakan dari MSCI yang memicu aksi jual besar-besaran. Dalam dua hari berturut-turut, otoritas bursa menerapkan trading halt karena penurunan indeks melampaui batas yang ditetapkan.
Koreksi tajam tersebut membuat IHSG turun lebih dari 8 persen dalam waktu singkat. Sentimen negatif menyebar cepat di kalangan investor, terutama pada saham-saham berkapitalisasi kecil yang selama ini bergerak tanpa dukungan fundamental kuat.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan tekanan ini hanya bersifat jangka pendek. Ia menyebut kondisi ekonomi domestik tetap solid dan tidak mengalami gangguan struktural.
“Ini jelas shock sementara, karena fundamental kita enggak masalah. Kalau yang jatuh saham-saham gorengan kan sudah saya ingatkan dari dulu, bersihkan bursa dari saham gorengan,” ujarnya, Sabtu (21/2/2026).
Menurutnya, saham-saham berfundamental kuat atau blue chip justru belum mengalami kenaikan signifikan sebelumnya, sehingga tekanan yang terjadi lebih banyak menyasar saham spekulatif.
Upaya Bersihkan Saham Gorengan
Pernyataan Purbaya kembali mengangkat isu lama mengenai praktik goreng-menggoreng saham di pasar modal. Saham gorengan merujuk pada saham dengan fundamental lemah yang harganya didorong naik melalui promosi agresif, manipulasi sentimen, atau skema pump and dump.
Praktik ini berisiko tinggi karena kenaikan harga tidak ditopang kinerja bisnis. Ketika minat beli mereda, harga bisa jatuh drastis dan menimbulkan kerugian besar bagi investor ritel.
Otoritas pasar modal selama ini telah memperketat pengawasan, termasuk penerapan auto rejection dan trading halt untuk meredam volatilitas ekstrem. Namun, fenomena spekulasi berlebihan masih kerap terjadi, terutama saat sentimen global memanas.
Sejarah Penggorengan Saham Pertama di Dunia
Fenomena saham gorengan bukan hal baru. Sejarah mencatat praktik serupa sudah terjadi lebih dari tiga abad lalu melalui skandal South Sea Company di Inggris.
Peristiwa yang dikenal sebagai South Sea Bubble terjadi pada 1720. Saat itu, pemerintah Inggris menghadapi beban utang besar pascaperang panjang di Eropa. Untuk mengatasinya, pemerintah mendirikan South Sea Company yang diberi hak mengelola utang negara dengan imbalan monopoli perdagangan di Amerika Selatan.
Mengacu pada catatan Encyclopædia Britannica, perusahaan tersebut menawarkan prospek keuntungan besar. Sahamnya melonjak dari sekitar 100 pound sterling menjadi lebih dari 1.000 pound hanya dalam hitungan bulan.
Euforia melanda berbagai lapisan masyarakat, termasuk anggota parlemen, bangsawan, hingga Raja George I. Namun, fakta penting tidak diungkap secara transparan: wilayah Amerika Selatan berada di bawah kekuasaan Spanyol, sehingga potensi bisnis riil sangat terbatas.
Isaac Newton dan Keruntuhan Pasar
Lonjakan harga saham South Sea Company lebih didorong spekulasi ketimbang kinerja usaha. Para petinggi perusahaan diam-diam menjual saham mereka saat harga tinggi. Ketika investor mulai meragukan sumber keuntungan, kepercayaan runtuh dan harga jatuh bebas.
Ribuan orang kehilangan tabungan hidupnya dalam semalam. Salah satu korban terkenal adalah ilmuwan Isaac Newton. Ia sempat meraih keuntungan, namun kembali masuk saat harga sudah terlalu tinggi dan akhirnya menderita kerugian besar.
Catatan dari Royal Society Publishing menyebut krisis tersebut memicu penyelidikan besar-besaran. Terungkap praktik suap, konflik kepentingan, dan manipulasi pasar yang melibatkan elite politik Inggris.
Peristiwa ini menjadi salah satu gelembung spekulatif terbesar dalam sejarah dan sering disebut sebagai cikal bakal praktik pump and dump modern.
Kasus Menjadikan Pelajaran bagi Pasar Modal Indonesia
Kasus South Sea Bubble menunjukkan bahwa spekulasi tanpa dasar fundamental dapat menghancurkan pasar dalam waktu singkat. Pola serupa berulang dalam berbagai krisis keuangan modern, meski dengan instrumen berbeda.
Dalam konteks IHSG trading halt akibat MSCI, tekanan yang terjadi dinilai lebih dipicu faktor teknikal dan sentimen global. Namun, peringatan mengenai saham gorengan tetap relevan.
Penguatan pengawasan, transparansi informasi emiten, serta edukasi investor menjadi kunci menjaga stabilitas pasar. Investor juga diimbau lebih selektif dan tidak mudah terpengaruh promosi atau euforia sesaat.
Koreksi tajam bisa menjadi momentum evaluasi bagi regulator dan pelaku pasar untuk memperbaiki kualitas perdagangan. Dengan fundamental ekonomi yang tetap terjaga, stabilitas jangka panjang pasar saham Indonesia diharapkan tetap solid.
Asuransi Bangun Askrida Bertahan di Tengah Persaingan
Sidang Isbat 1 Ramadan 1447 H, Hilal Belum Terlihat
Tag Asuransi Swasta










