EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
JAKARTA, 26 Mei 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus memperluas layanan kesehatan jiwa hingga tingkat Puskesmas sebagai bagian dari upaya mempercepat deteksi dini gangguan mental, khususnya skizofrenia. Langkah tersebut disampaikan dalam Webinar Nasional Hari Skizofrenia Sedunia 2026 yang menekankan pentingnya akses pengobatan merata serta penghapusan stigma terhadap penyintas gangguan jiwa.
Kemenkes Perluas Layanan Jiwa, Puskesmas Jadi Garda Terdepan Penanganan Gangguan Jiwa
Direktorat Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan RI menilai fasilitas kesehatan tingkat pertama memiliki peran strategis dalam mendeteksi gejala awal gangguan jiwa di masyarakat.
Melalui penguatan layanan di Puskesmas, pemerintah ingin memastikan masyarakat dapat memperoleh penanganan kesehatan mental lebih cepat tanpa harus menunggu kondisi pasien memburuk.
Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kemenkes RI, dr. Imran Pambudi, mengatakan edukasi publik menjadi bagian penting dalam menekan angka keterlambatan pengobatan pasien skizofrenia.
Menurutnya, masih banyak masyarakat yang salah memahami gangguan jiwa sehingga pasien kerap dibawa ke jalur nonmedis sebelum akhirnya mendapatkan pertolongan profesional.
“Skizofrenia merupakan penyakit medis yang dapat ditangani secara ilmiah melalui terapi dan pengobatan yang tepat,” kata dr. Imran dalam webinar virtual, Selasa (26/5/2026).
Kemenkes menilai pendekatan berbasis komunitas perlu diperkuat agar masyarakat lebih terbuka membicarakan persoalan kesehatan jiwa tanpa rasa takut atau malu.
Deteksi Awal Diharapkan Kurangi Risiko Kekambuhan
Dalam diskusi webinar, para narasumber menegaskan bahwa deteksi dini menjadi salah satu faktor utama yang menentukan keberhasilan pemulihan pasien skizofrenia.
Gejala awal yang sering muncul antara lain perubahan perilaku drastis, sulit berinteraksi sosial, kehilangan motivasi, hingga munculnya halusinasi atau delusi.
Kemenkes mengimbau keluarga segera membawa anggota keluarganya ke fasilitas kesehatan apabila menemukan tanda-tanda tersebut.
Penanganan lebih cepat dinilai dapat menurunkan risiko kekambuhan berat sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien.
Selain itu, pemerintah juga terus memperluas pelatihan tenaga kesehatan di tingkat FKTP agar mampu melakukan skrining kesehatan jiwa secara lebih efektif.
Pengobatan Injeksi Jangka Panjang Mulai Diterapkan
Pakar Psikiatri Dr. dr. Kamelia Malik, Sp.KJ, SubSp. T.A., menjelaskan bahwa layanan pengobatan skizofrenia kini berkembang dengan penerapan antipsikotik injeksi jangka panjang atau Long-Acting Injectable (LAI).
Terapi tersebut membantu pasien menjaga kestabilan kondisi karena tidak perlu mengonsumsi obat setiap hari.
Metode LAI dinilai efektif menekan risiko pasien putus pengobatan yang selama ini menjadi salah satu penyebab utama kekambuhan.
Kemenkes saat ini mulai memperluas layanan terapi tersebut hingga ke sejumlah Puskesmas agar akses pengobatan menjadi lebih mudah dijangkau masyarakat.
Keluarga Dinilai Memegang Peranan Penting
Webinar nasional itu juga menyoroti pentingnya dukungan keluarga dalam proses pemulihan pasien gangguan jiwa.
Psikolog Retna Mariyana, M.Psi., menjelaskan bahwa keluarga menjadi lingkungan utama yang menentukan keberhasilan rehabilitasi pasien.
Dukungan emosional, pengawasan konsumsi obat, serta penerimaan sosial dinilai sangat membantu pasien untuk kembali menjalani aktivitas normal.
Di sisi lain, perwakilan komunitas kesehatan jiwa Fithri Setya Marwati menilai masyarakat perlu aktif menjadi agen anti-stigma di lingkungan masing-masing.
Menurutnya, diskriminasi terhadap penyandang gangguan jiwa masih sering terjadi dan berdampak pada menurunnya kepercayaan diri pasien.
Praktisi keperawatan jiwa Siti Nurhayati, S.Kep., M.Kep., Sp.Kep.J., juga menegaskan pentingnya layanan pendampingan langsung di masyarakat agar pasien tetap terpantau setelah menjalani pengobatan.
Pemerintah Dorong Lingkungan Lebih Inklusif
Melalui peringatan Hari Skizofrenia Sedunia 2026, pemerintah berharap kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental semakin meningkat.
Kemenkes menegaskan bahwa penyandang skizofrenia memiliki hak yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan, pekerjaan, pendidikan, dan kehidupan sosial yang layak.
Pemerintah juga mengajak masyarakat menghentikan praktik diskriminasi maupun pengucilan terhadap Orang Dengan Skizofrenia (ODS).
Dengan dukungan keluarga, layanan kesehatan yang mudah diakses, serta lingkungan sosial yang lebih terbuka, pasien skizofrenia dinilai memiliki peluang besar untuk pulih dan kembali produktif.
Webinar nasional Hari Skizofrenia Sedunia 2026 turut disiarkan secara langsung melalui kanal YouTube resmi Kementerian Kesehatan RI.
Tautan Webinar:
Webinar Hari Skizofrenia Sedunia 2026 di YouTube
Sumber Berita:
Kementerian Kesehatan RI, Webinar Direktorat Kesehatan Jiwa Kemenkes RI
Berita utama terkini daerah nasional internasional
Rangkuman berita utama dari berbagai wilayah.
Headline news update terbaru
Berita viral dan headline utama hari ini.
Update berita terbaru setiap hari
Informasi cepat dan konsisten setiap waktu.
Berita hari ini terkini
Peristiwa terbaru yang sedang terjadi.
Kemenkes Perluas Layanan Jiwa hingga Puskesmas
Oleh: Redaksi Danakirti | 13:28 WIB, 26 Mei 2026
Seluruh konten di portal EX-POSE.NET telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan standar jurnalisme profesional yang akurat dan berimbang.
Karya jurnalistik ini tunduk pada UU Pers No. 40/1999 & Pedoman Media Siber. Hak cipta dilindungi.











