EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
Garut, 27 Maret 2026 — Banjir bandang kembali menerjang wilayah selatan Garut. Kali ini, Kampung Sindang Daweung, RT 04/RW 06, Desa Panembong, Kecamatan Bayongbong menjadi korban terjangan air bercampur lumpur usai hujan deras mengguyur kawasan tersebut pada Jumat (27/3/2026) sekitar pukul 15.35 WIB.
Arus air yang datang secara tiba-tiba membawa material lumpur, ranting, dan sampah dari wilayah hulu, menerjang permukiman warga serta lahan produktif. Sejumlah kebun bawang yang menjadi sumber penghasilan utama warga rusak parah, sementara kolam ikan dilaporkan jebol dan hanyut terbawa derasnya aliran air.
Kerugian ekonomi warga pun diperkirakan tidak sedikit. Beberapa petani mengaku kehilangan seluruh hasil tanam yang baru memasuki masa panen, sementara peternak ikan harus merelakan kolam mereka kosong dalam hitungan menit.
Berdasarkan penuturan warga, banjir bandang ini bukan sekadar akibat curah hujan tinggi, melainkan diduga kuat berkaitan dengan kerusakan lingkungan di wilayah hulu. Alih fungsi lahan dari kawasan hutan menjadi area pertanian dinilai semakin masif dalam beberapa tahun terakhir.
“Dulu masih banyak pohon besar, sekarang sudah banyak ditebang. Air jadi tidak tertahan, langsung turun deras ke bawah,” ungkap seorang warga dengan nada kecewa.
Warga menyebut, pembukaan lahan yang tidak terkontrol dan minimnya reboisasi diduga membuat daya serap tanah menurun drastis. Akibatnya, ketika hujan deras turun, air tidak lagi terserap secara alami, melainkan langsung berubah menjadi aliran permukaan yang berpotensi menjadi banjir bandang.
Tak hanya soal hulu, persoalan di hilir pun ikut disorot. Infrastruktur penunjang seperti saluran air (solokan) di kawasan permukiman disebut belum memadai. Sebagian besar masih berupa tanah tanpa penguatan kirmir beton, sehingga mudah tergerus dan jebol saat debit air meningkat.
Kondisi ini membuat warga semakin khawatir. Mereka menilai, jika tidak ada penanganan serius, banjir bandang serupa bisa kembali terjadi, bahkan dengan dampak yang lebih besar.
“Kalau hujan deras lagi, kami takut bukan cuma sawah yang rusak, tapi bisa sampai makan korban jiwa,” kata warga lainnya.
Wilayah terdampak tidak hanya Kampung Sindang Daweung, tetapi juga dikhawatirkan meluas hingga Kampung Nangoh yang berada di jalur aliran air.
Beruntung, dalam peristiwa kali ini tidak terdapat korban jiwa. Namun warga menegaskan bahwa kejadian tersebut harus menjadi peringatan serius bagi semua pihak.
Masyarakat mendesak Pemerintah Kabupaten Garut serta Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk segera turun langsung ke lokasi. Mereka berharap ada langkah nyata, mulai dari normalisasi dan penguatan saluran air, pembangunan kirmir beton, hingga evaluasi menyeluruh terhadap alih fungsi lahan di kawasan hulu.
Selain itu, warga juga mendorong adanya upaya reboisasi dan pengawasan ketat terhadap aktivitas pembukaan lahan agar keseimbangan ekosistem tetap terjaga.
Bagi warga Sindang Daweung, banjir bandang ini bukan sekadar bencana alam, melainkan peringatan bahwa kerusakan lingkungan dan lemahnya infrastruktur bisa menjadi ancaman nyata yang sewaktu-waktu kembali datang.
(Jajang ab)








