EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
JAKARTA, 3 Maret 2026 — Gerhana Total Maret 2026 menempatkan Indonesia sebagai salah satu lokasi strategis pengamatan fenomena langit tahun ini. Peristiwa astronomi yang bertepatan dengan 13 Ramadan 1447 Hijriah ini menghadirkan momen langka, karena menjadi satu-satunya gerhana Bulan yang dapat saksikan langsung dari Indonesia sepanjang 2026.
Alih-alih sekadar fenomena rutin astronomi, gerhana bulan kali ini dinilai memiliki nilai edukatif dan spiritual yang kuat. Posisi Indonesia di kawasan tropis memberikan peluang pengamatan optimal, khususnya di wilayah timur Nusantara.
Baca juga: Gerhana Bulan Total 3 Maret 2026
Indonesia dalam Peta Gerhana Dunia
Secara global, Gerhana Total Maret 2026 merupakan bagian dari seri Saros 133 dan tercatat sebagai anggota ke-27 dari total 71 gerhana dalam siklus tersebut. Siklus Saros sendiri berulang setiap sekitar 18 tahun 11 hari.
Fenomena ini terjadi ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada hampir segaris saat fase purnama. Dalam kondisi itu, Bulan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti (umbra) Bumi.
Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Nelly Florida Riama, menjelaskan proses tersebut.
“Ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus, Bulan akan masuk sepenuhnya ke dalam bayangan inti Bumi. Jika langit cerah, masyarakat dapat melihat Bulan berwarna merah saat puncak gerhana,” ujarnya.
Momentum Ramadan dan Dimensi Sosial
Berlangsung pada malam 13 Ramadan 1447 H, fenomena ini diperkirakan menarik perhatian luas masyarakat. Banyak komunitas astronomi hingga pesantren dan sekolah merencanakan kegiatan pengamatan bersama.
Bagi umat Muslim, gerhana Bulan juga memiliki dimensi ibadah tersendiri, yakni anjuran melaksanakan salat gerhana (khusuf). Perpaduan antara sains dan spiritualitas menjadikan peristiwa ini lebih dari sekadar tontonan langit.
Rangkaian Fase dan Durasi Pengamatan
BMKG mencatat puncak gerhana terjadi pukul 18.33.39 WIB. Untuk wilayah WITA dan WIT, masing-masing berlangsung pukul 19.33.39 dan 20.33.39 waktu setempat.
Pelaksana Tugas Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Fachri Radjab, merinci tahapan gerhana.
“Gerhana mulai sekitar pukul 18.03 WIB dan berakhir sepenuhnya pada 21.24 WIB ketika Bulan keluar dari bayangan penumbra,” jelasnya.
Totalitas berlangsung hampir satu jam, sementara keseluruhan fase sejak penumbra awal hingga berakhir mencapai sekitar 5 jam 41 menit.
Wilayah dengan Peluang Terbaik
Indonesia bagian timur adalah nilai paling ideal untuk pengamatan karena Bulan sudah terlihat sejak fase penumbra awal. Di wilayah barat Indonesia, Bulan terbit saat fase totalitas sudah berlangsung.
Artinya, masyarakat Papua, Maluku, dan Nusa Tenggara berpeluang menyaksikan proses gerhana lebih lengkap dibandingkan wilayah lain.
Mengapa Bulan Tampak Merah?
Fenomena yang populer disebut blood moon terjadi akibat hamburan cahaya di atmosfer Bumi. Cahaya biru tersebar lebih banyak, sementara cahaya merah diteruskan dan membias menuju permukaan Bulan.
Intensitas warna merah dapat bervariasi tergantung kondisi atmosfer Bumi saat itu, termasuk kandungan debu atau partikel di udara.
Posisi Orbit dan Ukuran Tampak
Gerhana ini terjadi sekitar 6,7 hari setelah perigee dan 6,9 hari sebelum apogee. Karena itu, ukuran tampak Bulan berada pada kategori sedang — tidak terlalu besar seperti supermoon, tetapi juga tidak tampak kecil.
Secara teknis, magnitudo gerhana tercatat 1,1526 dengan nilai gamma −0,3765, menunjukkan lintasan Bulan cukup dalam memasuki umbra Bumi.
Satu-satunya Gerhana yang Terlihat di Indonesia Tahun Ini
Sepanjang 2026 akan terjadi empat fenomena gerhana, yakni dua gerhana Matahari dan dua gerhana Bulan. Namun, hanya Gerhana Total Maret 2026 yang dapat terlihat langsung dari Indonesia.
Hal ini menjadikan peristiwa tersebut sebagai momen langit paling signifikan tahun ini bagi masyarakat Indonesia.
BMKG mengimbau masyarakat mencari lokasi minim polusi cahaya dengan pandangan langit terbuka untuk hasil pengamatan optimal.
“Gerhana Bulan aman diamati tanpa alat khusus. Yang penting adalah kondisi langit cerah dan lokasi pengamatan yang tidak terhalang,” kata Fachri.
Menunggu Siklus Berikutnya
Gerhana dalam seri Saros 133 sebelumnya terjadi pada 21 Februari 2008 dan akan kembali pada 13 Maret 2044. Artinya, masyarakat harus menunggu hampir dua dekade untuk menyaksikan peristiwa serupa dalam seri yang sama.
Dengan kombinasi nilai ilmiah, momentum Ramadan, dan posisi geografis Indonesia yang menguntungkan, Gerhana Total Maret 2026 bukan sekadar fenomena astronomi, melainkan peristiwa langit yang menyatukan sains, edukasi, dan refleksi spiritual dalam satu malam.












