EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
GARUT, 6 MARET 2026 – Suasana haru menyelimuti kepulangan Septi, warga asal Garut yang sempat terjebak dalam pusaran sindikat pekerjaan ilegal di Kamboja. Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Barat sekaligus Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Anton Sukartono Suratto, turun tangan langsung memastikan kepulangan warganya agar bisa merayakan Idulfitri di kampung halaman.
Kepedulian Anton bukan sekadar formalitas politik. Bersama kader Demokrat, ia menjemput Septi yang tiba dalam kondisi psikis dan fisik yang terguncang. Septi merupakan korban janji manis pekerjaan di luar negeri yang berujung pada kenyataan pahit: terlunta-lunta tanpa upah, bahkan untuk sekadar makan.
“Tadi kami sudah menjemput Mas Septi. Hati saya trenyuh melihatnya, dia sangat sedih. Di sana kondisinya luar biasa sulit, makan susah, uang pun sudah habis tak bersisa,” ungkap Anton dengan nada bicara yang dalam dan penuh empati.
Langkah Kemanusiaan di Balik Diplomasi
Proses kepulangan Septi merupakan kerja kolaboratif. Anton mengapresiasi peran kader di lapangan, termasuk Pak Bajuri, yang bergerak cepat memfasilitasi jalur kepulangan dari Kamboja. Bagi Anton, menyelamatkan satu nyawa warga Jawa Barat adalah prioritas yang melampaui tugas birokrasi.
Namun, di balik aksi humanis tersebut, Anton melontarkan kritik tajam dan peringatan keras terkait maraknya perdagangan orang (TPPO) bermodus tawaran kerja. Ia menyoroti celah penggunaan visa turis yang sering kali menjadi “pintu masuk” maut bagi para pencari kerja.
“Ini harus jadi pelajaran pahit bagi kita semua. Jangan mudah tergiur. Kalau tawaran resmi, keberangkatan pasti rombongan dan visanya adalah visa pekerja, bukan visa turis. Kita harus lebih peka,” tegasnya.
Edukasi Sebagai Benteng Terakhir
Meski tidak sepenuhnya menyalahkan pemerintah karena modus visa wisata yang sulit terdeteksi, Anton mendesak adanya penguatan sosialisasi hingga ke tingkat desa. Menurutnya, edukasi massif adalah benteng terakhir agar warga tidak lagi terjebak dalam skema penipuan serupa.
“Yang paling penting adalah kewaspadaan masyarakat. Kami di Demokrat akan terus mengawal kasus-kasus seperti ini, namun pencegahan jauh lebih utama. Jangan sampai ada ‘Septi-Septi’ lain yang harus mengalami trauma ini,” pungkas Anton.
Kini, Septi telah kembali ke pangkuan keluarga di Garut. Berkat langkah nyata Anton Suratto dan tim, Idulfitri tahun ini bagi Septi bukan lagi tentang ketakutan di negeri orang, melainkan tentang syukur dan hangatnya kumpul keluarga. (Undang Wiga)








