EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
Garut, 1 Januari 2025 — Penyelenggaraan ajang audisi bernyanyi idealnya menjadi ruang pencarian bakat yang menjunjung tinggi kualitas, kerja keras, dan kemampuan teknis peserta. Namun, ketika hasil akhir kompetisi tidak sepenuhnya mencerminkan kemampuan bernyanyi terbaik, publik wajar mempertanyakan arah dan integritas proses penilaian yang berlangsung.
Keberadaan dewan juri seharusnya menjadi pilar utama dalam menjaga objektivitas dan profesionalisme penilaian. Akan tetapi, apabila keputusan akhir dinilai dapat dipengaruhi oleh faktor finansial, popularitas, atau dukungan non-teknis lainnya, maka tujuan dasar audisi sebagai ajang pencarian bakat berpotensi bergeser.
Fenomena penggunaan sistem virtual gift dan mekanisme dukungan berbasis uang dinilai telah menciptakan ketimpangan dalam kompetisi. Dukungan finansial yang besar kerap menjadi faktor penentu kemenangan, bahkan mengalahkan kualitas vokal, teknik bernyanyi, serta proses latihan panjang yang telah dijalani peserta.
Kondisi ini menimbulkan kekecewaan, terutama bagi peserta yang telah berusaha tampil maksimal dengan harapan dinilai secara adil dan profesional. Kekalahan yang dialami bukan karena keterbatasan bakat, melainkan karena minimnya dukungan modal dan jaringan, sehingga menimbulkan pertanyaan serius mengenai rasa keadilan dalam kompetisi.
Catatan kritis ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan pihak yang berhasil meraih kemenangan, maupun untuk membela pihak yang kalah. Sebaliknya, opini ini dihadirkan sebagai bahan refleksi bersama bagi penyelenggara, juri, dan seluruh pihak terkait agar melakukan evaluasi menyeluruh demi perbaikan di masa mendatang.
Adapun sejumlah persoalan yang menjadi sorotan publik antara lain:
1. Subjektivitas Penilaian Juri
Penilaian juri kerap dipersepsikan lebih menitikberatkan pada aspek daya jual, popularitas, atau koneksi, dibandingkan kualitas teknis bernyanyi. Hal ini berpotensi mengesampingkan peserta yang memiliki kemampuan murni.
2. Pengaruh Uang dan Sistem Virtual Gift
Sistem voting berbasis uang membuka ruang terjadinya dominasi finansial, sehingga kompetisi menjadi tidak seimbang dan rawan dimaknai sebagai ajang “pembelian kemenangan”.
3. Rasa Keadilan dan Dampak Psikologis Peserta
Ketika hasil akhir ditentukan oleh faktor di luar kemampuan, kelelahan, pengorbanan, dan perjuangan peserta berpotensi terasa sia-sia, serta menimbulkan kekecewaan mendalam.
4. Pergeseran Makna Pencarian Bakat
Ajang audisi dinilai tidak lagi sepenuhnya mencerminkan pencarian bakat sejati, melainkan bergeser menjadi pertarungan kekuatan finansial dan popularitas.
Ke depan, diharapkan sistem penilaian dapat dirancang lebih transparan, adil, dan proporsional, dengan menempatkan kualitas serta bakat sebagai faktor utama. Dengan demikian, ajang audisi tetap memiliki ruh sebagai panggung prestasi dan pengembangan potensi, bukan sekadar arena transaksi dan dominasi modal.
(Jajang ab)








