EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
Oleh: Aep Saepullah Mubarok
Garut, 1 April 2026 —
Bangsa ini pernah berdiri kokoh bukan karena semua orang berpikir sama, tetapi karena para pendirinya mampu menyatukan perbedaan dalam satu arah perjuangan. Konsepsi dwi tunggal yang melekat pada Soekarno dan Mohammad Hatta adalah bukti nyata bahwa perbedaan bukan ancaman—melainkan kekuatan yang jika dikelola dengan bijak, justru melahirkan kejayaan.
Baca berita lain disini: Nova Wylian Sumaryo Terpilih Sebagai Kepala Desa Lewo Baru Melalui PAW 2026
Soekarno adalah gelora. Ia adalah suara yang mengguncang kesadaran rakyat, membangkitkan keberanian, dan menyalakan api perlawanan. Dalam dirinya, revolusi menemukan bahasa yang hidup. Ia tidak hanya berbicara, ia menggerakkan. Ia tidak sekadar memimpin, ia menghidupkan harapan.
Baca berita lain disini: Pilkades PAW Pasirwaru Kecamatan Limbangan Sukses Tanpa Ekses
Namun, api tanpa kendali bisa membakar segalanya. Di sinilah peran Mohammad Hatta menjadi krusial. Hatta adalah nalar. Ia adalah ketenangan di tengah gelombang, perhitungan di tengah euforia, dan arah di tengah semangat yang meluap. Ia memastikan bahwa perjuangan tidak hanya berapi-api, tetapi juga terarah, terukur, dan berkelanjutan.
Baca berita lain disini: Pasca Terpilih Jadi Kades PAW Jajang Risman Siap Bangun Pasirwaru.
Dua kutub ini tidak saling meniadakan. Justru sebaliknya—mereka saling menguatkan. Inilah esensi dwi tunggal: berbeda, tetapi tidak berseberangan; tidak sama, tetapi satu tujuan. Sebuah harmoni yang hari ini terasa semakin langka.
Kini, mari kita jujur: apakah semangat itu masih hidup di tengah kita?
Di era hari ini, perbedaan justru kerap dijadikan alasan untuk saling menjatuhkan. Perbedaan pandangan politik berubah menjadi permusuhan. Perbedaan pilihan dianggap sebagai pengkhianatan. Ruang publik dipenuhi kegaduhan, bukan gagasan. Kita lebih sibuk membuktikan siapa yang paling benar, daripada mencari apa yang paling benar.
Padahal, jika kita mau belajar, konsep dwi tunggal mengajarkan satu hal mendasar: bangsa ini tidak dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh kemampuan untuk menyatukan perbedaan.
Refleksi ini menemukan resonansinya dalam konsep syahadatain. Dua kalimat syahadat bukan sekadar lafaz, melainkan fondasi keimanan yang utuh. Pengakuan terhadap keesaan Allah dan kerasulan Nabi Muhammad SAW adalah dua hal yang berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan. Keduanya berdiri sendiri, namun saling melengkapi dalam satu kesatuan makna.
Dalam konteks kehidupan sosial, ini adalah pesan yang sangat kuat: perbedaan bukan untuk dipertentangkan, melainkan untuk dipertemukan.
Masalahnya, hari ini kita justru terjebak dalam ilusi keseragaman. Siapa yang berbeda, dianggap lawan. Siapa yang tidak sejalan, dicurigai. Bahkan, tidak jarang perbedaan dijadikan alat untuk memecah belah, demi kepentingan sesaat.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang runtuh bukan hanya persatuan—tetapi juga akal sehat kita sebagai bangsa.
Kita lupa bahwa kekuatan Indonesia sejak awal terletak pada kemampuannya merangkul keberagaman. Kita lupa bahwa para pendiri bangsa tidak pernah menuntut kesamaan, tetapi menekankan kesatuan tujuan.
Maka, pertanyaannya sederhana namun mendasar: masihkah kita layak menyebut diri sebagai penerus perjuangan, jika perbedaan saja tidak mampu kita kelola?
Belajar dari dwi tunggal Soekarno–Mohammad Hatta dan makna syahadatain, kita diingatkan bahwa persatuan bukan soal menjadi sama, tetapi tentang memiliki kesadaran yang sama: bahwa kita berjalan menuju tujuan yang satu.
Persatuan sejati bukan lahir dari keseragaman yang dipaksakan, melainkan dari kedewasaan dalam menyikapi perbedaan.
Dan jika hari ini kita masih sibuk memperdebatkan perbedaan tanpa arah, mungkin yang perlu kita pertanyakan bukan siapa yang benar—tetapi apakah kita masih berada di tujuan yang sama sebagai bangsa.
(Jajang ab)














