Utama

Perampasan Asset Harus Menerapkan Kombinasi Prinsif Hukum ‘IN REM’ Dan ‘IN PERSONAM’

Rohman Priatna
0
×

Perampasan Asset Harus Menerapkan Kombinasi Prinsif Hukum ‘IN REM’ Dan ‘IN PERSONAM’

Sebarkan artikel ini

 

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi Partai Golkar Soedeson Tandra mengingatkan mengenai adanya potensi benturan filosofi hukum dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset, terutama terkait pergeseran fokus hukum dari subyek ke obyek. Menurutnya, mekanisme perampasan aset tanpa putusan pengadilan pidana (non-conviction based) yang mengedepankan prinsip in rem (fokus pada barang) dapat mencederai karakter hukum Indonesia yang menganut sistem civil law bersifat in personam (fokus pada orang).

Dalam pandangan saya, bahwa sikap anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar diatas sangat terkesan masih ragu bahkan tersirat menghambat lahirnya UU Perampasan Asset. Padahal UU Perampasan Asset ini menjadi sangat fundamental ketika negara ingin melakukan pencegahan korupsi yang begitu krodit di Indonesia ini.

Oleh karena itu dalam perampasan asset ini harus diterapkan kombinasi prinsif hukum IN REM dan IN PERSOMAN, artinya Koruptornya dipenjara dengan hukuman maksimal dan kerugian negara akibat korupsi tersebut harus dilakukan perampasan alias penyitaan asset sebesar nilai kerugian akibat korupsi tersebut.

Mari kita dukung untuk segera lahirnya UU Perampasan Asset. (Red)

UPDATE: Informasi dalam artikel ini telah diverifikasi dan validasi secara berkala hingga 16 Oktober 2026.

EX-POSE.NET  : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Siliwangi
🔥 Pusat Informasi & Rubrik Utama EX-POSE.NET

Ikuti rangkuman peristiwa harian dan pembaruan kebijakan publik secara real-time melalui kanal pilar kami:

Perampasan Asset Harus Menerapkan Kombinasi Prinsif Hukum ‘IN REM’ Dan ‘IN PERSONAM’

Oleh: Rohman Priatna | 20:05 WIB, 9 April 2026

Seluruh konten di portal EX-POSE.NET telah melalui proses verifikasi fakta dan penyuntingan oleh Tim Dewan Redaksi untuk memastikan standar jurnalisme profesional yang akurat dan berimbang.

Karya jurnalistik ini tunduk pada UU Pers No. 40/1999 & Pedoman Media Siber. Hak cipta dilindungi.

Jenderal Suyudi Ario Seto - Menjadi Polisi Adalah Kehormatan