EX-POSE.NET : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya
GARUT, 18 Maret 2026 – Di balik ketenangan Desa Tegalpanjang, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut, lahir seorang perempuan tangguh yang membuktikan bahwa kerja keras dan ketulusan adalah kunci membuka pintu nasib. Ia adalah Ai Supeni (42), sosok guru yang kini dikenal bukan hanya karena pengabdiannya di dunia pendidikan, tetapi juga sebagai potret perempuan sukses yang tetap membumi.
Lahir dari Semangat Politik dan Kesederhanaan
Sebagai putri tunggal dari pasangan Bapak Idris Sugito—seorang tokoh politik PDI era Orde Baru di Wanaraja—dan Ibu Dasikah, Ai tumbuh dalam lingkungan yang membentuk mentalitas bajanya. Meski berasal dari keluarga dengan ekonomi sederhana, darah sang ayah mengalirkan kepiawian dalam berkomunikasi dan berstrategi, yang kelak menjadi modal besarnya dalam menaklukkan tantangan hidup.
17 Tahun Menjemput Takdir sebagai Pendidik
Perjalanan Ai sebagai guru bukanlah jalan tol yang mulus. Dimulai pada tahun 2003, ia melangkah sebagai guru sukarelawan di SDN 5 Tegalpanjang. Sambil mengajar, ia terus menimba ilmu hingga meraih gelar S1 Pendidikan Biologi dari STKIP Garut. Kesabarannya diuji selama 17 tahun menjadi tenaga honorer. Namun, pepatah “hasil tidak akan mengkhianati proses” terbukti nyata. Pada 2019, ia dinyatakan lulus ASN PPPK dan menerima SK penuh pada 2021. Tak sekadar mengajar, di tahun 2024, Ai dinobatkan sebagai salah satu Guru Penggerak terbaik di Sucinaraja, membuktikan dedikasi totalnya pada pendidikan dengan memengang kelas 4 di bawah pimpinan Kepala Sekolah Ibu Hj. Ade Rohmah.
Sayap Bisnis yang Terbang Tinggi
Kemandirian ekonomi Ai dimulai sejak usia 22 tahun. Dari membuka konter HP, butik, hingga usaha kredit alat rumah tangga, ia melakoni semuanya dengan ulet. Titik balik bisnisnya terjadi pada 2015 saat ia bergabung dengan Milagros, produk air minum kesehatan. Kini, di bawah bimbingannya, terdapat 276 anggota jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. Kesuksesan ini membawanya terbang melintasi batas negara—dari China, Thailand, Malaysia, hingga Arab Saudi. Bahkan, pencapaian tertingginya adalah saat ia mampu memberangkatkan ibunda tercinta dan keluarga ke Tanah Suci.
Mewah dalam Materi, Rendah Hati dalam Sikap
Meski kini bergelimang materi dengan deretan kendaraan mewah di garasinya, Ai Supeni tetaplah Ai yang dulu. Ia tidak sungkan naik angkot atau ojek untuk beraktivitas sehari-hari. Baginya, harta hanyalah titipan, bukan alasan untuk meninggikan hati. “Selama ada kesempatan usaha dan tidak mengganggu tugas pokok sebagai guru serta tidak melanggar aturan kerja, ambil kesempatan itu,” pesan Ai dengan nada optimis.
Cinta Keluarga di Atas Segalanya
Di tengah kesibukannya mengelola kantor pemasaran di Perum Green Mutiara Residen Karangpawitan dan mengajar di sekolah, prioritas utama Ai tetaplah keluarga. Ia adalah ibu yang bangga bagi Muhammad Bilal Nugraha (16), siswa SMAN 26 Garut, dan Ferdinan Aditya (12), siswa SDN 5 Tegalpanjang.
Kisah Ai Supeni adalah pengingat bagi kita semua: bahwa kesuksesan finansial tidak harus mengubur pengabdian sosial, dan setinggi apa pun kita terbang, kaki harus tetap berpijak di bumi pertiwi.
(UNDANG/WIGA)







