scrol kebawah untuk membaca
BeritaBerita Utama

Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap

×

Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap

Sebarkan artikel ini
Foto: Pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat yang diduga praktik pelanggaran produksi sepatu merek internasional

EX-POSE.NET  : Latest-Trusted-Objective | Berita Terkini - Terbaru - Terpercaya

Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap Ex-Pose.net, Cirebon – Dugaan praktik pelanggaran serius dalam rantai produksi sepatu merek internasional Under Armour (UA) mencuat dari lingkungan pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten
Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap Ex-Pose.net, Cirebon – Dugaan praktik pelanggaran serius dalam rantai produksi sepatu merek internasional Under Armour (UA) mencuat dari lingkungan pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten

Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap

Ex-Pose.net, Cirebon – Dugaan praktik pelanggaran serius dalam rantai produksi sepatu merek internasional Under Armour (UA) mencuat dari lingkungan pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Seorang narasumber internal yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan, dugaan tersebut mencakup kebocoran produk, konflik kepentingan, hingga pelanggaran Code of Conduct Under Armour.

Pesan Iklan
Iklan 081574404040

“Beredarnya sepatu Under Armour di pasar gelap diduga kuat bukan merupakan produk palsu. Melainkan produk asli yang keluar melalui jalur internal pabrik. Produk-produk tersebut bahkan disebut sempat dipasarkan secara terbuka melalui status WhatsApp penjual, sehingga memunculkan dugaan lemahnya pengawasan distribusi,” kata sumber tersebut di Jakarta, Sabtu (31/1/2025).

Foto: Sepatu Brand Internasional yang diduga dijual lewat jalur gelap

Menurutnya, tak hanya Under Armour, dugaan pelanggaran internal juga disebut menimpa merek lain. Dilaporkan terjadi kehilangan sepatu merek Brooks sebanyak satu karton berisi 12 pasang di lingkungan PT Longrich Indonesia pada 15 Januari 2026,

Artikel Berita Lainya  Menhan Prabowo Terima Kunjungan Menpora Dito

“Kehilangan tersebut diduga merupakan aksi penyelundupan yang melibatkan oknum driver perusahaan dengan memanfaatkan kendaraan operasional pabrik, serta diduga melibatkan jaringan internal,” katanya.

“Jika kasus seperti ini dibiarkan tanpa penindakan tegas, kepercayaan brand internasional terhadap industri alas kaki dan tenaga kerja Indonesia bisa tergerus secara serius,” sambung sumber.

Masih menurutnya, sorotan berikutnya mengarah pada dugaan pelanggaran Code of Conduct Under Armour yang diduga melibatkan Iwan Antareja, yang disebut sebagai Technical Team Under Armour Indonesia, dan Daniel Tseng, selaku Business Manager PT Longrich Indonesia.

“Keduanya diduga melakukan aktivitas bermain golf dan menginap di Hotel Aston Bandung di tengah jam kerja pada 23–24 Oktober 2025 dan aktivitas produksi pabrik yang masih berlangsung.,” ungkap sumber.

Aktivitas tersebut ada dugaan berpotensi melanggar ketentuan etika UA yang secara tegas melarang penerimaan fasilitas, hiburan mahal, atau bentuk gratifikasi apa pun yang dapat menimbulkan konflik kepentingan antara pihak brand dan pabrik mitra.

“Aktivitas serupa diduga kembali terjadi pada 25 Januari 2026, yang diduga melibatkan Iwan Antareja (Technical Manager UA), Brian Hwang (Senior Technical Manager UA Indonesia & Vietnam sekaligus atasan langsung Iwan), Daniel Tseng (Business Manager PT Longrich Indonesia).

Ketiganya diduga kembali melakukan kegiatan bermain golf bersama di kawasan Sentul, Kabupaten Bogor.

“Dalam standar kepatuhan brand global, aktivitas seperti golf bersama bukan sekadar rekreasi. Ini berpotensi menciptakan konflik kepentingan dan masuk kategori pelanggaran etika, terutama jika dilakukan oleh pihak brand dan manajemen pabrik dalam relasi pengawasan,” tegas narasumber.

Artikel Berita Lainya  Keputusan Pemerintah Penetapan 1 Syawal 1446 H

Narasumber juga menyoroti gaya hidup dan aktivitas pribadi Iwan Antareja yang memunculkan pertanyaan mengenai dugaan kewajaran penghasilan, diantaranya, perjalanan ke luar negeri dan beberapa perjalanan serupa pada tahun-tahun sebelumnya.

Mengajak sekitar sembilan orang tim development/technical factory (T1) berwisata ke Guci, Jawa Tengah, selama dua malam, yang diduga dibiayai secara pribadi.

Saat dilakukan upaya konfirmasi, Daniel Tseng memberikan respons melalui pesan WhatsApp yang bernada ancaman hukum serta tuduhan pemerasan, alih-alih memberikan klarifikasi substantif atas pokok persoalan yang dipertanyakan media.

Dalam pesan tersebut, Daniel antara lain menyampaikan, mohon berikan informasi dan dokumen apa pun yang dapat mengidentifikasi anda, termasuk nama, nama perusahaan, alamat, kartu identitas pribadi, alamat pribadi, dan ijin kerja. Pengacara saya akan mendaftarkan Anda di kantor polisi dan mengirimkan surat kepada Anda.

“Laporkan ke polisi segala aktivitas dan tujuan yang bersifat penipuan, pemerasan, atau terkait klaim. Pengacara saya akan menghubungi perusahaan Anda siang ini terkait tuduhan pemerasan,” tulis pesan melalui WhatsApp.

Tak lama setelah pesan tersebut dikirim, nomor redaksi media disebut langsung diblokir oleh Daniel Tseng, sehingga upaya konfirmasi lanjutan tidak dapat dilakukan.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada Iwan Antareja juga tidak membuahkan hasil. Setelah membaca pesan konfirmasi awal dan pesan konfirmasi kedua, yang bersangkutan tidak memberikan tanggapan dan diduga memblokir nomor wartawan, tanpa klarifikasi maupun bantahan.

Artikel Berita Lainya  Pimpin Upacara Kehormatan di TMP Pondok Rajeg, Kapolres Bogor: Teruskan Perjuangan Pahlawan

Sementara itu, Aktivis dan pemerhati industri alas kaki nasional, Duel Syamson, menegaskan bahwa apabila informasi tersebut terbukti benar, maka kantor pusat Under Armour di Amerika Serikat wajib melakukan investigasi independen, objektif, dan transparan.

“Ini bukan semata-mata soal benar atau salahnya satu individu. Ini menyangkut sistem pengawasan, integritas hubungan antara brand dan mitra pabrik, serta kepatuhan terhadap kode etik global,” ujar Duel di Jakarta, Senin (3/2/2026).

Ia menambahkan, sikap defensif berupa pemblokiran media dan ancaman hukum justru memperkuat kecurigaan publik, bukan meredam persoalan.

“Dalam praktik tata kelola yang sehat, tuduhan yang tidak benar seharusnya dijawab dengan data, klarifikasi terbuka, dan audit independen, bukan dengan intimidasi hukum. Jika dugaan ini dibiarkan tanpa penanganan serius, yang rusak bukan hanya nama individu, tetapi reputasi Under Armour dan kepercayaan dunia terhadap industri manufaktur Indonesia,” tegasnya.

Menurut Duel, kasus ini harus menjadi momentum bagi brand global untuk menunjukkan komitmen nyata terhadap etika, transparansi, dan perlindungan integritas pekerja Indonesia di mata internasional.

“Under Armour harus bersikap tegas, objektif, dan transparan. Jangan sampai Indonesia hanya dipandang sebagai lokasi produksi murah, tetapi diabaikan dari standar etika global yang mereka gaungkan sendiri,” pungkasnya

WBN-Fingerprint: ex-pose.net-2025
Artikel ini diterbitkan pertama kali di ex-pose.net

Tinggalkan Balasan

Translate »
Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap Ex-Pose.net, Cirebon - Dugaan praktik pelanggaran serius dalam rantai produksi sepatu merek internasional Under Armour (UA) mencuat dari lingkungan pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten
Sepatu Brand Dunia Diduga Dijual Lewat Jalur Gelap Ex-Pose.net, Cirebon - Dugaan praktik pelanggaran serius dalam rantai produksi sepatu merek internasional Under Armour (UA) mencuat dari lingkungan pabrik PT Longrich Indonesia di Kecamatan Pabedilan, Kabupaten